Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di website ini dengan menyertakan fiqihwanita.com sebagai sumber artikel
search slide
search slide
pages bottom

PUASA BAGI WANITA HAMIL DAN MENYUSUI

PUASA BAGI WANITA HAMIL DAN MENYUSUI

Pertanyaan : Saya masih belum faham tentang hukum berbuka (tidak puasa-pen) untuk wanita hamil dan menyusui.  Apakah rukhshah/keringanan ini untuk semua wanita hamil dan menyusui, ataukah hanya bagi mereka yang benar-benar tidak kuat berpuasa saja? Lalu bagaimana hukumnya bagi wanita hamil yang sebenarnya kuat berpuasa tapi tidak berpuasa, apakah ia berdosa?  — (Ibu Y di Cikarang) —

Hukum asal puasa di bulan Ramadhan adalah wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah yang sudah baligh, berakal, tidak sedang dalam perjalanan (musafir) atau sakit, dan (khususnya Muslimah) suci dari haid dan nifas. Para ulama telah bersepakat dalam wajibnya puasa di bulan Ramadhan ini berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih.  Kewajiban ini pun juga berlaku untuk wanita hamil dan menyusui yang tidak memiliki udzur untuk meninggalkan puasa. 

Wanita yang dalam keadaan haid dan nifas, telah jelas hukumnya, yaitu ia tidak boleh berpuasa dan wajib meng-qadha atau mengganti puasa sebanyak hari yang ditinggalkannya. Sedangkan wanita atau orang yang dalam keadaan safar dan atau sakit, diberikan keringanan untuk berbuka dan wajib menggantinya di hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan.

Sedangkan bagi wanita hamil atau menyusui yang dalam keadaan sehat, tidak lemah, tidak sakit-sakitan, atau tidak memiliki kekhawatiran terhadap janin / anaknya dan dirinya sendiri, maka ia tetap wajib berpuasa dan bila meninggalkannya berarti ia berdosa.

Nah, berikut ini adalah beberapa fatwa para ulama tentang hukum puasa bagi wanita hamil dan menyusui :

1. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : Wanita hamil atau menyusui, jika ia khawatir akan keselamatan dan kesehatan janinnya, maka ia boleh berbuka (tidak puasa). Dan wajib baginya untuk meng-qadha (mengganti) puasa di hari lain sebanyak hari yang ia tinggalkan dan juga memberi makan orang miskin (fidyah) setiap harinya satu ritl dari roti yang layak/baik.  (Fatawa An-Nisa’ – Syaikh Ibnu Taimiyah)

2. Wanita yang hamil atau menyusui, bila ia khawatir akan diri dan janinnya diperbolehkan berbuka (tidak puasa), kemudian ia wajib memberi makan orang miskin (fidyah) setiap harinya, dan ia tidak wajib meng-qadha (mengganti) puasanya menurut pendapat yang paling rajih. Pendapat ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam sunannya (4/347), Abd bin Humaid dalam kitab Al-Muntakhab (420). Pendapat yang sama juga dikeluarkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhum- tentang bolehnya wanita hamil dan menyusui berbuka bila khawatir.

3. Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan -hafizhahullah- berpendapat bahwa jika seorang wanita hamil dan menyusui khawatir akan janinnya bila ia berpuasa, maka ia boleh berbuka dengan meng-qadha (mengganti) di hari lain dan di samping itu ia juga wajib memberi makan orang miskin. Tapi jika ia khawatir akan dirinya sendiri tidak akan kuat berpuasa karena hamil dan menyusui, maka ia cukup meng-qadha saja tanpa harus memberi makan orang miskin (fidyah).

 

 

Sumber :

  • Fatawa An-Nisa – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
  • Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah
  • Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masail al-’ashriyyah min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram
  • Fiqih Sunnah Wanita – Kamal bin As-Sayyid Salim

 

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di website ini dengan menyertakan fiqihwanita.com sebagai sumber artikel

2 Responses to “PUASA BAGI WANITA HAMIL DAN MENYUSUI”

  1. isti says:

    maaf sebelumnya..untuk fidyah itu boleh berupa sembako atau uang?katakanlah 4000X30 hari dan diberikan sekaligus?terima kasih sebelumnya.karena saya pernah melihat orang membayar fidyah dengan cara itu

    • admin says:

      Allah berfirman,

      وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
      “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.” (Q.s. Al-Baqarah:184)
      Yang patut ditekankan disini adalah perintah untuk MEMBERI MAKAN, berarti wajibnya adalah memberi makanan ataupun bahan makanan, bukan menggantinya dengan uang. sebanyak apapun uang yg kita bayarkan untuk mengganti fidyah itu, tetap saja tidak sah. yang harus kita ikuti adalah sunnah Rasulullah, bukan perbuatan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>